suarahulubalang.com

Copyright © suarahulubalang.com
All rights reserved
Desain by : sarupo

Pancasila merupakan dasar negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia.

Empat Pilar MPR RI Lambang Kekokohan Negara

Foto : Dok Suara Hulubalang

SUARAHULUBALANG - Kalimat diatas menjadi inti dari kegiatan sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang dilakukan Dr. Hj. Intsiawati Ayus, SH, MH anggota MPR RI, di Kelurahan Limbungan Baru, Kecamatan Rumbai, Kota Pekanbaru, 20 Maret 2022.

Mengawali acara sosialisasi, Intsiawati menjelaskan keanggotaan MPR yang terdiri atas anggota DPR dan anggota DPD yang dipilih melalui pemilihan umum.

“Sesuai UU No 17 tahun 2014, setiap anggota MPR memiliki tugas untuk mensosialisasikan dan memasyarakatkan Empat Pilar MPR RI,” demikian penjelasan Intsiawati Ayus dalam acara Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di daerah pemilihannya Pekanbaru.

Anggota DPD RI Komite I ini menjelaskan lebih lanjut bahwa pilar artinya tiang yang menopang sebuah bangunan. “Bangsa kita akan utuh dan kuat, bila pilarnya kuat. Sebagaimana sebuah bangunan akan kokoh, bila tiangnya kokoh. Demikian juga sebaliknya,” paparnya.

Intsiawati Ayus yang juga Ketua Ormas Laskar Melayu ini menjelaskan empat pilar kebangsaan itu adalah Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhineka Tunggal Ika. Empat pilar itu harus dijaga dan dipelihara oleh seluruh rakyat Indonesia.

“Karena dengan memahami dan memegang teguh nilai-nilai yang terkandung dalam empat pilar ini, akan menjadi kekuatan kita bernegara untuk menghadapi berbagai tantangan internal dan eksternal hidup bernegara” ucapnya.

Secara terperinci, di hadapan peserta sosialisasi Hj Intsiawati menjelaskan satu demi satu pilar kebangsaan.

Pilar pertama yaitu Pancasila sebagai dasar dan ideologi Negara, semestinya dilaksanakan dalam kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sila pertama menjadikan kita bangsa yang religius. Bila kita mengamalkan sila pertama, kita akan menjadi bangsa yang religius, rukun antar umat beragama dan memiliki toleransi yang tinggi.

Sila kedua merupakan dasar hubungan sosial dan budaya antara semua masyarakat Indonesia. Bahwa manusia harus diakui dan diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki derajat yang sama.

SHARE US :
Komentar Via Facebook :